Opini
Beranda » Berita » Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di Indonesia sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Anak.

Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di Indonesia sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Anak.

Keamanan Pangan Jajanan Sekolah
Keamanan Pangan Jajanan Sekolah di Indonesia sebagai Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Anak.

Jajanan sekolah sudah menjadi bagian dari keseharian siswa di Indonesia. Hampir setiap hari, anak-anak membeli makanan seperti cilok, siomay, bakso tusuk, mie lidi, hingga minuman berwarna mencolok seperti es sirup dan minuman jelly di sekitar sekolah.

Jajanan ini mudah didapat dan harganya murah, sehingga sangat diminati. Namun, di balik itu, ada masalah besar yang sering tidak disadari, yaitu keamanan pangan.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan yang dilaporkan oleh detik.com, sekitar 40–44% pangan jajanan anak sekolah (PJAS) tidak memenuhi syarat keamanan pangan.

Data ini menunjukkan bahwa masalah jajanan sekolah bukan hal sepele, tetapi sudah menjadi masalah yang cukup serius.

Masalah utama dari kondisi ini sebenarnya terletak pada lemahnya sistem pengawasan pangan. Pengawasan yang ada saat ini belum mampu mengontrol semua pedagang jajanan yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di berbagai tempat.

Novel Looking for Alaska Adalah Buku yang Menggugah Perasaan Pembaca

Menurut medcom.id, hasil pengujian di DKI Jakarta masih menemukan sekitar 9,37% sampel jajanan sekolah mengandung bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan rhodamin B. Artinya, meskipun sudah ada pengawasan, masih banyak jajanan berbahaya yang lolos dan tetap dijual.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan yang berjalan belum efektif dan belum dilakukan secara rutin serta menyeluruh.

Kondisi di lapangan juga memperkuat hal tersebut. Banyak pedagang menjual jajanan seperti cilok atau bakso tusuk dengan tekstur yang tidak wajar karena kemungkinan menggunakan boraks. Mie basah atau tahu isi terkadang menggunakan formalin agar tidak cepat basi.

Minuman dengan warna yang sangat mencolok juga sering diduga menggunakan pewarna tekstil. Selain itu, banyak pedagang yang menjual makanan dalam keadaan terbuka tanpa penutup, sehingga mudah terkena debu jalanan, asap kendaraan, dan bakteri dari lingkungan sekitar.

Proses pengolahan juga sering kali tidak higienis, seperti tidak mencuci tangan, menggunakan air yang kurang bersih, dan peralatan yang tidak steril. Hal-hal seperti ini sangat berisiko, terutama jika terjadi setiap hari.

Hilirisasi Nikel Dalam Geopolitik Global: Senjata Baru Indonesia

Masalah ini menjadi semakin penting karena yang mengonsumsi adalah anak-anak. Anak sekolah dasar umumnya belum bisa memilih makanan dengan baik. Mereka cenderung memilih jajanan berdasarkan rasa, warna, dan tampilan yang menarik, tanpa memikirkan apakah makanan tersebut aman atau tidak.

Menurut detik.com, sekitar 78% anak sekolah mengonsumsi jajanan, dan sekitar 31,1% kebutuhan energi mereka berasal dari jajanan tersebut. Jika makanan yang dikonsumsi setiap hari tidak aman, maka dampaknya bisa cukup besar, mulai dari sakit perut, diare, hingga gangguan kesehatan jangka panjang yang bisa memengaruhi tumbuh kembang anak.

Melihat kondisi tersebut, solusi yang diberikan tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan saja. Pengawasan memang penting, tetapi harus didukung dengan langkah lain agar hasilnya lebih maksimal.

Dari sisi pemerintah, pengawasan perlu dilakukan lebih rutin dan tidak hanya saat ada kasus. Pedagang juga perlu diberikan pembinaan, misalnya pelatihan tentang cara mengolah makanan yang bersih dan aman, serta penggunaan bahan yang tidak berbahaya.

Dari sisi sekolah, perlu ada peran lebih aktif, seperti menyediakan kantin sehat, membatasi jajanan di luar sekolah, dan memastikan makanan yang dijual di lingkungan sekolah lebih terkontrol.

Semoga Mimpi Indah dalam Bahasa Inggris

Selain itu, anak-anak juga perlu diarahkan oleh guru dan orang tua, misalnya dengan memberi contoh memilih jajanan yang lebih aman dan membiasakan membawa bekal dari rumah.

Tidak kalah penting, kondisi ekonomi pedagang juga perlu diperhatikan. Banyak pedagang menggunakan bahan berbahaya karena alasan biaya atau agar makanan lebih tahan lama.

Jika tidak ada dukungan, mereka akan sulit beralih ke bahan yang lebih aman. Oleh karena itu, bantuan seperti akses bahan baku yang aman dengan harga terjangkau atau fasilitas pengolahan yang lebih higienis bisa menjadi solusi yang lebih nyata.

Dengan langkah-langkah yang saling mendukung tersebut, masalah keamanan jajanan sekolah bisa dikurangi secara bertahap.

Jika hanya mengandalkan satu cara, seperti pengawasan saja, hasilnya tidak akan maksimal. Oleh karena itu, perbaikan harus dilakukan secara bersama-sama dari berbagai sisi agar anak-anak dapat mengonsumsi makanan yang lebih aman dan sehat setiap hari.

Penulis: Alvino Akbar Susilo, Rafi Akbar Refian Putra, dan Rifa Aghniya Sabrina

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement