Edukasi
Beranda » Berita » Latar Belakang Bukan Takdir: Pelajaran dari Wright Bersaudara Hingga Susi Pudjiastuti

Latar Belakang Bukan Takdir: Pelajaran dari Wright Bersaudara Hingga Susi Pudjiastuti

pelajaran dari Zero to One
Pelajaran dari Zero to One

Kalimat “siapa pun bisa menjadi apa pun” sering dianggap sekadar penghibur. Namun jika kita menengok sejarah, kalimat itu ternyata menggambarkan pola yang berulang: orang-orang tanpa kredensial mentereng justru kerap menjadi pelopor.

Montir sepeda yang mengalahkan ilmuwan ternama

Wilbur dan Orville Wright tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Mereka mengelola bengkel sepeda di Dayton, Ohio. Pada saat yang sama, ilmuwan terpandang Samuel Langley memperoleh dana dari pemerintah Amerika Serikat untuk mengembangkan pesawat berawak, tetapi uji cobanya gagal.

Pada 17 Desember 1903, di Kitty Hawk, Carolina Utara, justru dua pemilik bengkel sepeda itulah yang berhasil menerbangkan pesawat bermesin untuk pertama kalinya.

Ditolak dan bangkrut, lalu membangun raksasa

Soichiro Honda, anak seorang pandai besi, memulai kariernya sebagai montir magang. Usaha ring piston miliknya sempat ditolak Toyota karena kualitas, lalu pabriknya rusak akibat perang dan gempa. Pada 1948, ia memulai lagi dengan perusahaan kecil yang kelak dikenal dunia sebagai Honda.

Dari pengepul ikan menjadi menteri

Contoh dari dalam negeri pun ada. Susi Pudjiastuti tidak menamatkan SMA dan memulai usaha sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Bisnisnya berkembang hingga ia mendirikan maskapai Susi Air untuk mengangkut hasil laut. Pada 2014, ia dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Fungsi dan Peranan Lembaga Pemeriksa Halal dalam Proses Sertifikasi

Ada pula Harland Sanders, yang baru benar-benar memulai bisnis waralaba ayam gorengnya di usia 60-an setelah restorannya sepi pengunjung. Usaha itu kini dikenal sebagai KFC.

Penjelasan dari Zero to One

Tegar Prayuda, pembuat produk digital asal Bogor, mengaitkan kisah-kisah tersebut dengan gagasan Peter Thiel dalam buku Zero to One. Dalam tulisannya tentang pelajaran dari Zero to One, ia menyoroti pembedaan Thiel antara menyalin sesuatu yang sudah ada dan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.

Menurut Tegar, di wilayah penciptaan hal baru, semua orang sesungguhnya berangkat sebagai pemula. Ilmu menerbangkan pesawat bermesin belum dimiliki siapa pun pada masa Wright bersaudara, sehingga gelar para profesor tidak memberi keunggulan mutlak. Gelar, dalam pandangannya, adalah bukti penguasaan masa lalu, sedangkan penciptaan hal baru adalah urusan masa depan.

Tidak punya nama justru bisa jadi modal

Pandangan ini juga ia terapkan pada dirinya sendiri. Tegar, yang tidak berlatar belakang ilmu komputer, menulis bahwa menjadi bukan siapa-siapa justru bisa menjadi modal. Orang yang belum punya reputasi tidak dibebani rasa takut terlihat amatir, sehingga lebih bebas mencoba dan merilis karya.

Syarat yang jarang disebut

Meski begitu, “siapa pun bisa menjadi apa pun” bukan berarti tanpa usaha. Semua tokoh di atas membayar harga yang mahal. Wright bersaudara melewati banyak kegagalan, Honda sempat terpuruk, dan Susi membangun bisnisnya selama bertahun-tahun.

Wova Career Bantu Job Seeker Lebih Siap Hadapi Seleksi Rekrutmen Perusahaan

Karena itu, kalimat yang lebih jujur barangkali berbunyi begini: siapa pun bisa menjadi apa pun, asalkan bersedia memulai dari nol tanpa malu, bertahan melewati penolakan, dan benar-benar mengerjakan mimpinya.

Kabar baiknya, pengungkit untuk memulai kini tersedia bagi hampir semua orang. Internet, perangkat modern, dan kecerdasan buatan memberi peluang yang jauh lebih besar dibanding yang dimiliki para pelopor tadi. Latar belakang hanyalah titik berangkat, bukan takdir.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement